JAKARTA — Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., menegaskan komitmen kuat Polri dalam mendorong transformasi digital total pada setiap pelaksanaan operasi lalu lintas. Seluruh kegiatan penegakan hukum di jalan raya diminta untuk dikemas, dikendalikan, dan diawasi melalui infrastruktur teknologi digital sebagai wujud profesionalisme dan transparansi Polantas di era modern.
“Saya minta itu sehingga kita bisa menjual bahwa kegiatan operasi ini dikendalikan infrastruktur teknologi digital,” tegas Irjen Pol Agus Suryonugroho.
Menurut Kakorlantas Polri, digitalisasi bukan lagi sekadar inovasi, melainkan keniscayaan dalam reformasi pelayanan publik kepolisian. Transformasi digital dinilai mampu meminimalisasi praktik transaksional, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap kinerja Polantas di lapangan.
“Salah satu indikator pelayanan publik ini berhasil dan tidak ada transaksional adalah lompatan transformasi digital. Digital, itu adalah sebuah keniscayaan,” jelasnya.
Irjen Pol Agus juga menginstruksikan seluruh pejabat utama di lingkungan Korlantas Polri untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan terhadap penerapan digitalisasi. Ia menekankan bahwa lompatan digital merupakan indikator utama keberhasilan perubahan pelayanan publik yang lebih transparan, akuntabel, dan berintegritas.
“Saya minta masing-masing para pejabat utama agar betul-betul melakukan evaluasi-evaluasi. Lompatan digital inilah bagian daripada indikator keberhasilan kita dan perubahan pelayanan publik,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Korlantas Polri terus memaksimalkan penerapan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Saat ini, sekitar 95 persen penindakan pelanggaran lalu lintas dilakukan melalui ETLE, sementara tilang manual hanya 5 persen dan digunakan secara selektif.
“Niat kita 95 persen kita perankan ETLE dan 5 persen kita gunakan tilang, itu kita laksanakan dengan sebaik-baiknya,” ungkap Kakorlantas.
Tak hanya soal teknologi, Kakorlantas Polri juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam pelaksanaan tugas Polantas. Ia berharap personel lalu lintas dapat menjadi sahabat masyarakat, bukan sekadar aparat penegak hukum, demi menciptakan keselamatan bersama di jalan raya.
“Lebih baik kita dekat dengan masyarakat, lebih baik kita merangkul masyarakat, lebih baik kita diterima di tengah-tengah masyarakat. Jadikan semua menjadi sahabat kita dan jadikan mereka selamat di jalan. Ini yang paling terpenting,” tegasnya.
Dalam rangka meningkatkan Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas (Kamseltibcarlantas), Irjen Pol Agus juga meminta agar manajemen dan rekayasa lalu lintas direncanakan secara matang dan berbasis data. Prediksi arus lalu lintas harus didukung oleh parameter kendaraan dan kondisi jalan guna mengatur flow lalu lintas secara optimal.
“Rencanakan manajemen rekayasa lalu lintas sebaik-baiknya. Gunakan parameter kendaraan dan jalan untuk mengatur flow lalu lintas,” pungkasnya.
Transformasi digital Polantas pun diharapkan menjadi tonggak penting menuju pelayanan publik yang modern, bersih, dan berorientasi keselamatan, sejalan dengan tuntutan masyarakat di era digital saat ini.







