Majene – Fakta mengejutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua terbesar di dunia dalam kasus penderita TBC di bawah India, memicu respons cepat dari jajaran Kepolisian Daerah Sulawesi Barat. Bertempat di Aula Polres Majene, sebuah ‘operasi kemanusiaan’ skala besar resmi diluncurkan melalui program Patroli Kesehatan Masyarakat (DOORS).
Kali ini ada yang tidak biasa dari pergerakan para Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di jajaran Polres Majene. Jika biasanya mereka turun ke desa-desa untuk memburu pelaku kriminalitas atau menjaga kamtibmas, kini garis tugas mereka bertambah: memburu “musuh tak kasat mata” yang diam-diam mengancam nyawa warga binaan mereka.
Musuh tersebut adalah bakteri Tuberkulosis (TBC). Langkah berani ini resmi dimulai melalui Sosialisasi Program Patroli Kesehatan Masyarakat (DOORS) Polda Sulbar yang digelar di Aula Polres Majene, Selasa (9/6/2026).
Dipimpin langsung oleh Koordinator program Patroli kesehatan masyarakat (DOORS) Zona Kab. Majene, IPDA H. Eman Sulaiman, S.E., M.M., C.MTr., C.IBST. bersama Tim dari Biddokkes Polda Sulbar, Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar dan Dinkes Kabupaten Majene, seluruh personel Bhabinkamtibmas jajaran Polres Majene kini resmi memegang mandat baru sebagai agen pelacak (contact tracing) kesehatan.
Indonesia yang saat ini berada di peringkat kedua dunia untuk kasus TBC, membuat Polda Sulbar tidak ingin tinggal diam.
”Bhabinkamtibmas adalah ujung tombak kita. Mereka yang tahu persis kondisi warga binaannya, juga memiliki data awal siapa warga yang batuk menahun atau sakit di pelosok desa. Melalui program DOORS ini, kita ketuk pintu rumah mereka, deteksi dini, kawal pengobatannya, dan kita pastikan mereka sembuh total tanpa ada stigma,” tegas IPDA H. Eman Sulaiman dalam arahannya.
Kegiatan ini melibatkan sinergi penuh Lintas Sektor antara Polda Sulbar dengan Dinas kesehatan Provinsi Sulbar, di awaki Direktorat Binmas dan Biddokkes Polda Sulbar serta Sat Binmas Polres Majene, hingga para Penanggung Jawab penanggulangan TBC dari seluruh Puskesmas se-Kabupaten Majene.
Dalam sosialisasi tersebut, ditekankan bahwa Bhabinkamtibmas tidak hanya bertugas melakukan deteksi dini, melainkan juga dibekali kemampuan untuk mendampingi pasien agar disiplin mengonsumsi obat selama 6 bulan penuh. Menariknya, para personel juga diwajibkan menjaga ketat kerahasiaan data pasien demi menghapus stigma negatif dan rasa malu yang selama ini membuat penderita TBC enggan berobat ke klinik kesehatan.
Pertemuan lintas sektoral ini ternyata menjadi penanda dimulainya aksi masif Polri dalam memutus rantai penularan TBC melalui strategi DOORS (Deteksi, Observasi, Obati, Rawat, Sembuhkan).
Dikomandoi oleh Dit Binmas Polda Sulbar yang diwakili IPDA H. Eman, mengatakan polanya kini berubah menjadi jemput bola. Polisi bersama kader atau PJ TBC puskesmas aktif mendatangi kelompok masyarakat berisiko tinggi dengan berbekal masker dan metode pelacakan kontak erat.
“Targetnya pada akhir minggu kedua bulan Juni 2026, seluruh hasil pendataan tracing di lapangan harus sudah masuk ke operator masing-masing Polsek jajaran untuk segera disinkronkan dengan data Puskesmas setempat, hal ini untuk memastikan penyaluran logistik obat dari Dinkes mendarat tepat sasaran” tutup IPDA H. Eman







